Tata Graha, Sisi Lain dari Media Promosi Kesehatan yang Sering Terabaikan

Secara definisi tata graha dalam hal ilmu kesehatan tidaklah terlalu populer. Saya sendiri berusaha melakukan penelusuran terkait tata graha melalui google.

Namun kebanyakan yang saya temukan sebatas istilah tata graha dalam perspektif perhotelan yang diterjemah artikan dari housekeeping atau yang diartikan secara singkat sebagai menjaga atau merawat rumah / bangunan / wisma / hotel. Tata graha banyak disimpulkan sebagai sebuah bagian atau departemen yang bertanggung jawab terhadap peralatan, kebersihan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan itu.

Tata graha dan akreditasi

Bagi tenaga kesehatan yang berkecimpung dengan akreditasi, baik itu akreditasi puskesmas, rumah sakit, klinik pratama maupun praktek dokter gigi, pasti sangat familier dengan istilah tata graha.

Tata graha menjadi sesuatu hal yang wajib tersedia terkait dengan elemen-elemen penilaian yang harus dipenuhi dalam berproses menjadi sarana pelayanan kesehatan yang terakreditasi. Kenapa terakreditasi? Akreditasi adalah syarat mutlak agar sarana pelayanan kesehatan dapat bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Esensi awal dari akreditasi sarana pelayanan kesehatan adalah adanya pemerataan atau standarisasi mutu sarana pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia, dari ujung Banda Aceh sampai tanah Papua.

Dengan demikian harapannya mutu sarana pelayanan kesehatan yang ada di daerah Sorong sama mutunya dengan sarana pelayanan kesehatan yang ada di Jakarta atau Surabaya, sama pula standar mutunya dengan sarana pelayanan kesehatan di daerah Simeulue Aceh.

Ada banyak sisi yang dipersyaratkan dalam pelaksanaan akreditasi. Mulai dari ketenagaan, sarana prasarana, sistem, administrasi, manajemen dan berbagai aspek lainnya. Tata graha melekat dalam aspek-aspek tersebut meskipun tidak ada bab yang secara khusus menilai tata graha dari sisi kelayakan maupun utilitasnya.

Namun disini saya hanya ingin membahas tentang tata graha dari perspektif sarana pelayanan kesehatan meliputi rumah sakit, puskesmas, klinik pratama dan klinik gigi (saya menyebutnya sarana pelayanan kesehatan)

Tata graha sarana pelayanan kesehatan sedikit berbeda dengan dengan housekeeping 

Berbeda dengan tata graha dalam perspektif housekeeping, tata graha dalam perspektif kesehatan sangat terkait dengan keselamatan pasien sebagai konsumen utama yang menikmati sarana pelayanan kesehatan.

Saya contohkan begini : chef di sebuah hotel dengan reputasi internasional bekerja secara profesional dalam penyediaan makanan di hotel tersebut.

Di sarana pelayanan kesehatan juga ada “chef” yang berkolaborasi secara keilmuan dalam berbagai disiplin ilmu kesehatan (dokter, perawat, farmasis) memformulasikan sebuah makanan yang selain enak juga harus memenuhi syarat kompatibel dengan kebutuhan gizi sesuai dengan diagnosa yang dia dapatkan.

Dia disebut sebagai nutrisionis. Nutrisionis sendiri merupakan sebuah profesi dalam bidang kesehatan yang bertanggung jawab terhadap kebutuhan gizi pasien.

Penggunaan genset di sebuah perhotelan lebih cenderung pada kenyamanan pengunjung saat terjadinya pemadaman listrik atau permasalahan lain yang berpotensi mengganggu operasional sebuah hotel.

Di puskesmas, genset berfungsi selain pada aspek kenyamanan, juga keselamatan pasien secara menyeluruh misalnya pengamanan vaksin. Yang kita tahu ketika terjadi pemadaman listrik mengakibatkan suhu penyimpanan vaksin berubah, hal ini beresiko merusak vaksin dan efeknya adalah vaksinasi atau imunisasi menjadi useless.

Di era revolusi industri seperti sekarang ini masyarakat sebagai sasaran program maupun sebagai pasien mempunyai banyak pilihan terhadap segala hal yang diinginkannya terkait sarana pelayanan kesehatan :

Pertama, kemudahan akses informasi.

Informasi terbuka seluas-luasnya, termasuk informasi kesehatan. Keterbukaan informasi ini pada dasarnya merupakan dua sisi mata pisau bagi sarana pelayanan kesehatan.

Di satu sisi masyarakat dianggap belum cukup mampu untuk memfilter informasi kesehatan secara benar, mana yang benar dan mana yang hoax. Kita tentu pernah membaca berita tentang berita hoax cara penggunaan masker yang dibalik? Bahkan bukan hanya dalam bidang kesehatan.

Dari berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, filter atas dampak keterbukaan dan kebebasan informasi ini juga menjadi masalah dalam masyarakat, khususnya terkait penyebaran berita hoax. Sisi positif dari era keterbukaan informasi ini dapat dijadikan celah yang baik untuk media promosi kesehatan.

Kedua, kompetisi antar sarana pelayanan kesehatan lebih terbuka.

Hal ini merupakan dampak dari kemudahan masyarakat dalam memperoleh informasi. Sarana pelayanan kesehatan tidak lagi bisa berbuat seenaknya atas interpretasi sebuah aturan : misalnya sistem rujukan, yang dapat dicari oleh masyarakat informasinya hanya dengan ujung jari.

Sangat mudah untuk mendapatkan informasi tentang kelengkapan sarana prasarana, kelengkapan sumber daya manusia, infrastruktur dari sebuah sarana pelayanan kesehatan yang selanjutnya masyarakatlah yang akhirnya dengan mudah dapat memilih.

Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi
Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi

Tata graha dalam perspektif promosi kesehatan di era revolusi industri 4.0

Sebenarnya,konsep kerapian dan keindahan pada sebuah sarana pelayanan kesehatan sudah ada dan ditata jauh hari sebelum adanya penerapan akreditasi. Tata graha menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah upaya promosi kesehatan yang baik.

Bayangkan saja, akan sulit untuk memberi edukasi tentang pengelolaan sampah kepada masyarakat jika di puskesmas saja pengelolaan sampah masih serampangan secara kasat mata.

Sampah organik dan non organik tidak terkelola dengan baik. Sampah medis dan non medis tidak terkelola dengan baik, padahal sekali lagi keduanya membawa dampak bukan hanya pada sisi estetika namun keselamatan pasien.

Misalnya terkait dengan penularan penyakit (infeksi nosokomial). Disinilah penataan tata graha di sarana pelayanan kesehatan dianggap harus memenuhi kriteria seni sekaligus sebagai safety sign.

Mengapa harus ada seni didalamnya? Karena pada aspek seni inilah tata graha memegang fungsi. Tata graha yang baik akan membentuk branding yang baik terhadap sebuah sarana pelayanan kesehatan.

Berpikir secara integratif dalam penataan tata graha.

Permasalahan yang banyak terjadi adalah, penyediaan tata graha hanya sebatas memenuhi sarana dan prasarana sesuai instrumen minimal yang diwajibkan. Terkadang sekedar mengeksekusi anggaran yang telah ada.

Bahkan tidak sedikit yang melakukan pengadaan atas sesuatu yang belum dimengerti fungsi dan dilakukan tanpa kajian sama sekali. Secara mudahnya, ada tida aspek yang harus mampu kita integrasikan jika ingin mendapatkan output yang baik.

Pertama, kolaborasikan fungsi tata graha sebagai perpaduan antara estetika, media promosi kesehatan dan sarana keselamatan pasien (safety sign).

Kita tahu bahwa pemenuhan tata graha untuk sebuah sarana pelayanan kesehatan bisa menelan bisa menelan biaya puluhan bahkan ratusan juta. Pengadaan atas seluruh instrumen tata graha hendaknya tidak meninggalkan tiga aspek : estetika, safety sign dan sekaligus menjadi media promosi kesehatan dalam rangka intervensi terhadap perilaku kesehatan masyarakat.

Jika pengadaan tata graha pada sebuah sarana pelayanan kesehatan hanya berorientasi pada menghabiskan anggaran atau hanya sekedar memenuhi elemen penilaian yang ada dalam persyaratan akreditasi, yang akan terjadi adalah anggaran terkuras, branding sarana pelayanan kesehatan tidak terbentuk dengan baik dimasyarakat dan promosi kesehatan pun tidak akan berjalan efektif. Sekali lagi masyarakat kini dihadapkan pada banyak pilihan yang terbuka sangat luas.

Jika yang kita suguhkan bukan sesuatu hal yang menarik, masyarakat akan cenderung asyik dengan smartphone nya daripada melihat perangkat-perangkat promosi yang Anda suguhkan.

Tata graha bukan sekedar pada aspek pemenuhan kebendaan melainkan harus tersentuh ke aspek kegunaan dan estetikanya. Selama saya berkecimpung dalam pengadaan tata graha untuk akreditasi, sangat sering saya menjumpai “klien yang membeli dulu urusan (fungsinya) belakang” yang penting punya dulu.

Kedua, perhatikan dinamisasi gaya hidup dan kebutuhan masyarakat.

Kita tidak lagi bisa bekerja seperti era sebelumnya. Pengadaan leaflet atau brosur saja tidaklah cukup menarik minat baca masyarakat. Masyarakat tidak lagi bisa “dipancing” hanya dengan brosur. Alih-alih menarik minat, brosur hanya menjadi sarana kipas-kipas pengunjung yang gerah menunggu lamanya antrian pelayanan.

Disisi lain sebuah sarana pelayanan sebenarnya bisa menyediakan LED TV yang terkoneksi dengan Youtube untuk menayangkan video-video tentang promosi kesehatan, sosialisasi program-program fasilitas kesehatan kepada masyarakat. Hal tersebut juga berlaku pada penyediaan ruang menyusui (ruang laktasi), penyediaan arena bermain bagi anak, penyediaan sarana ramah difabel dan lain-lain semuanya harus benar-benar dilakukan sesuai dengan dinamika kebutuhan masyarakat.

Penyediaan ruang laktasi yang baik dan nyaman akan bisa menjadi sebuah media bagi kita untuk melakukan promosi kesehatan, baik itu dalam bentuk poster, leaflet, brosur maupun sarana audio visual.

Ketiga, perhatikan modal sosial dalam masyarakat.

Jika dikaitkan dengan perspektif tata graha, dalam penyelenggaraan tata graha yang efektif hendaknya tetap mengutamakan kearifan lokal, mampu mengangkat potensi daerah baik secara kultural maupun secara ekonomi.

Apapun branding yang hendak kita bangun dalam konsep tata graha seyogyanya mampu mengangkat kekhasan kultural suatu daerah.

Hal ini akan daya ungkit  dalam rangka promosi kesehatan berbasis pemberdayaan masyarakat sehingga apa yang kita sampaikan mudah diterima karena keberadaan sarana pelayanan kesehatan juga memberi manfaat terhadap potensi masyarakat

Penutup, meski kerap terabaikan, namun urusan tata graha ini berkaitan dengan panca indera. Hal ini akan dengan cepat membentuk kesan pertama terhadap pengunjung, pasien maupun sasaran program.

Faktanya, penyediaan tata graha yang integratif dan berbasis sistem pada umumnya hanya bisa dilakukan oleh sebuah sarana pelayanan kesehatan yang visioner dan secara sistem memang sudah berjalan dengan baik.

Dengan kata lain, untuk sarana yang tata grahanya tersistem dengan baik, biasanya manajemen dan pelayanannya akan baik. Sebaliknya, ketika kesan pertama nampak tidak menggoda, biasanya hasil akhirnya bisa diduga. (ada surveyor pernah cerita begitu)

 Wallahu a’lam.

 

Artikel ini sudah pernah ditayangkan di Kompasiana dengan judul artikel

Tata Graha, Sisi Lain dari Media Promosi Kesehatan yang Sering Terabaikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *