Seberapa Penting Konsep Pelayanan Informasi Obat bagi Tenaga Kefarmasian?

Peran tenaga kefarmasian di era sekarang telah mengalami pergeseran yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan satu atau dua dekade yang lalu. Pergeseran ini membawa posisi tenaga kefarmasian (tenaga teknis kefarmasian dan apoteker) lebih bergeser ke depan. Artinya ketika dulu tenaga kefarmasian hanya sebatas menjalankan fungsi peracikan dan penyiapan obat dibalik layar, saat ini tenaga kefarmasian sudah mulai dioptimalkan kompetensinya oleh fasilitas pelayanan kesehatan di garda yang lebih depan meskipun belum dapat disebut terdepan.

Pergeseran peran dan paradigma ini tentu tidak lepas dari berbagai faktor diantaranya: banyaknya lulusan tenaga kefarmasian mulai dari jenjang D3 (Tenaga Teknis Kefarmasian) hingga apoteker. Fenomena ini mungkin akan saling mempengaruhi dengan munculnya regulasi-regulasi yang lebih memfungsikan tenaga kefarmasian dalam pelayanan secara langsung kepada pasien, bukan lagi terbatas pada layanan dispensing di balik layar.

Jika kita melihat lebih jauh lagi, selain dua hal tersebut, faktor pendukung yang lain juga tentu sangat banyak seperti misalnya kompetensi tenaga kefarmasian yangg semakin meningkat, kurikulum pendidikan yang lebih baik dan mengikuti perkembangan jaman, banyaknya permasalahan kesehatan yang pada akhirnya (diakui maupun tidak) ternyata membutuhkan kompetensi dari tenaga kefarmasian.

Pada prakteknya, pergeseran yang cukup cepat ini pada akhirnya tidaklah diikuti dengan perangkat pendukung yang memadai. Dalam kaitannya pelayanan langsung kepada pasien, banyak dinamika permasalahan yang secara cepat harus mampu diterjemahkan menjadi informasi yang akurat kepada pengguna layanan, dalam hal ini yaitu pasien dan tenaga kesehatan. Beruntung, google menyediakan jutaan pustaka yang “maha” kaya. Sehingga dalam kondisi tertentu, seorang tenaga farmasi hanya perlu menuliskan kata kunci pencarian dan pinter-pinternya memvalidasi referensi, maka banyak alternatif solusi yang bisa menjawab berbagai permasalahan khususnya hal obat dan segala problematikanya.

Namun demikian situasi tersebut tentu bukanlah sesuatu tatanan yang ideal ketika kita bicara dalam ranah profesi. Yang namanya sebuah profesi tentu memiliki kekhasan tertentu yang “tidak boleh” digantikan oleh sekedar aktifitas googling. Farmasis membutuhkan sesuatu skill pembeda yang benar-benar khas sebagai seorang riil farmasis di tengah gempuran era society seperti sekarang ini.

Contoh Label High Alert

Contoh Kotak Obat Apotek

Jika kita melihat pada celah dan potensi, terdapat beberapa hal yang memang secara profesional tidak terlalu banyak dimasuki oleh seorang tenaga kefarmasian yakni pada wilayah perilaku kesehatan (health behavior). Umumnya konsep ini dianggap milik tenaga kesehatan masyarakat, padahal meskipun secara ilmu dapat menginduk pada teori-teori yang sama, terdapat garis singgung yang secara definitif memang berbeda dan selama ini tidak tersentuh baik oleh tenaga kefarmasian maupun tenaga kesehatan masyarakat. Saya contohkan misalnya dalam perilaku penggunaan antibiotik, kebiasaan menyimpan obat, kebiasaan swamedikasi, dan juga pelayanan informasi obat. Contoh-contoh itu merupakan area farmasi masyarakat yang selama ini tidak banyak tersentuh baik oleh tenaga kefarmasian maupun tenaga kesehatan masyarakat.

Banyak faktor yang menyebabkan permasalahan-permasalahan tersebut dapat dikatakan kurang terjamah oleh tenaga kefarmasian.

Pertama, memang secara kurikulum pendidikan, tidak banyak lembaga penndidikan yang mempunyai concern terhadap jurusan tersebut. Kerennya farmasi itu ya di farmasi klinis, atau farmasi obat bahan alam, atau farmasi manajemen. Bahkan dengan kebijakan yang ada sekarang, sangat menutup kemungkinan seorang tenaga kesehatan masyarakat yang bisa berkiprah di perguruan tinggi farmasi karena dianggap jenjang pendidikannya tidak linier. Hal ini tentu akan berimbas pada sudut pandang materi yang dibawakan oleh tenaga farmasi dengan tenaga kesehatan masyarakat tentu akan berbeda. Imbas akhirnya tentu pada output atau lulusan yang dihasilkan, tentu cukup sulit menghasilkan tenaga-tenaga kefarmasian yang mempunyai orientasi di kesehatan masyarakat khususnya dalam bidang farmasi.

Kedua, banyak tenaga kefarmasian yang waktu dan energinya telah habis untuk mengurusi kegiatan yang sifatnya administratif. Apalagi jika kita lihat dari sisi material, obat merupakan aset yang seksi sehingga dalam penggunaannya bukan hanya dituntut secara sains melainkan harus juga dipertanggungjawabkan secara administratif dan pertanggungjawaban secara keuangan.


Kotak Obat paling Murah di Tokopedia, hanya Rp. 999 per kotak. Silahkan klik disini.


Ketiga, minimnya media promosi kesehatan dalam bidang kefarmasian komunitas (farmasi masyarakat). Ketika kita bicara tentang stunting misalnya, kita dapat dengan mudah menemukan beragam media promkes yang seperti telah terintegrasi mulai dari hulu dampai ke hilir, mulai dari Kemenkes sampai sampai di puskesmas bahkan sampai ke posyandu sekalipun. Hal ini akan berbeda dengan ketika kita mencoba mencari media-media edukasi yang berkaitan dengan pelayanan kefarmasian secara komunitas misalnya penggunaan antibiotik, cara penyimpanan obat, cara pemusnahan obat dan lain-lain. Ada memang, tapi jika kita amati itu merupakan media-media promosi kesehatan yang tidak terintegrasi dan belum tersosialisasi secara terintegrasi sebagaimana permasalahan kesehatan yang lain. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada sejawat senior yang telah menciptakan beragam inovasi mulai dari Gema Cermat, Dagusibu, CBIA dan lain-lainnya, menurut hemat saya, tenaga kefarmasian di lapangan masih membutuhkan beragam media promosi kesehatan yang dapat lebih mensupport praktek kefarmasian di fasilitas pelayanan kesehatan.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan? Pertanyaan ini mungkin akan menjadi penjabaran atas pernyataan yang saya sampaikan sebelumnya, bahwa farmasis harus mampu menciptakan sebuah tatanan ideal yang mampu benar-benar menegaskan kekhasan kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga farmasi. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memperkuat pelayanan informasi obat (PIO).

Konsep PIO ini harus dilaksanakan dengan baik sesuai kaidah-kaidah yang mampu menjawab permasalahan farmasi masyarakat maupun farmasi perorangan.

PIO dalam konsep farmasi masyarakat dapat diejawantahkan melalui PIO secara pasif. PIO secara pasif ini artinya kita menggunakan media untuk memberikan pelayanan informasi obat tanpa diminta. Konsep ini dapat dijalankan dengan menggunakan media promosi kesehatan berupa poster, flyer, leaflet, media audio visual dan lain-lain. Terdapat banyak tema yang dapat kita buat untuk mencitrakan kemanfaatan kita dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat. Misalnya dengan membuat media promosi kesehatan  dengan contoh tema-tema berikut :

  1. Poster tentang Penggolongan Obat
  2. Poster tentang DAGUSIBU
  3. Poster tentang Kebiasaan Buruk Minum Obat
  4. Poster tentang Gerakan Minum Antibiotik Tepat Waktu
  5. Leaflet Pelayanan Informasi Obat
  6. Poster tentang Larangan Membeli Antibiotik Tanpa Resep
  7. Poster tentang Cara menyimpan Obat

Dan berbagai tema lain sesuai permasalahan yang telah dianalisis oleh tenaga kefarmasian di berbagai wilayah yang berbeda-beda.

Untuk konsep PIO secara aktif, kita dapat meningkatkan kompetensi kita sehingga kita dapat menjawab dengan cepat dan berbasis evidence based medicine atas permasalahan-permasalahan yang ditanyakan kepada kita selaku tenaga farmasi. Kompetensi kita dalam wilayah ini akan meningkatkan kepercayaan pengguna layanan (dalam hal ini tenaga kesehatan lain dan juga pasien) kepada kompetensi dari tenaga kefarmasian. Perangkat pendukung inilah yang menurut hemat saya masih sangat kurang di dalam praktek kefarmasian. Kita belum memiliki panduan praktek kefarmasian sebagaimana layaknya dokter atau dokter gigi. Belum ada standarisasi yang mengatur jawaban yang baku atas permasalahan-permasalahan yang muncul dalam praktek kefarmasian. Yang ada hanyalah bekal kompetensi masing-masing yang diperoleh dari lembaga pendidikan masing-masing individu yang mungkin boleh jadi tidak sama antara farmasis dari Aceh dengan farmasis dari Papua. Menurut hemat saya, kita membutuhkan panduan atau pedoman khusus dari organisasi profesi maupun Kemenkes yang telah terstandarisasi tentang berbagai permasalahan yang mungkin sifatnya sangat basicly bagi seorang farmasis yang berpraktek di tiap-tiap fasyankes misalnya :

  1. Edukasi apa saja yang harus disampaikan terhadap pasien hipertensi?
  2. Edukasi apa saja yang harus disampaikan kepada pasien lansia penderita penyakit kronis?
  3. Apakah itu Efek Samping Obat (ESO), bagaimana contohnya, bagaimana pelaporannya?
  4. Apa itu LASA dan bagaimana menentukan kriterianya?
  5. Apa saja kriteria obat-obat emergency atau obat-obatan anafilaktik, bagaimana menyimpannya?
  6. Bagaimana standar almari dengan pintu rangkap, bagaimana interpretasinya?

Dan masih banyak lagi tema-tema dan permasalalahan yang tentunya secara kompetensi saya pribadi masih belumlah kompeten untuk menginventarisirnya secara komprehensif. Mungkin ada beberapa teman sejawat yang “mbatin”, kok contoh-contoh masalahnya hanya sepele-sepele seperti itu. Mungkin bagi segelintir orang ya, itu bisa saja dianggap sepele. Namun sepanjang lebih dari lima belas tahun saya berkecimpung dalam pelayanan kefarmasiian saya masih sering menemukan sejawat yang menanyakan

“Apa sih obat LASA?”. Bahkan jika kita berkunjung ke fasilitas pelayanan kesehatan, masih banyak kita akan menemukan perbedaan model-model pintu pengaman dan kunci yang berbeda di almari penyimpanan psikotropikanya, hal ini menunjukkan bahwa interpretasi Permenkes tentang pengelolaan obat psikotropika masih mendapatkan interpretasi yang tidak seragam di kalangan tenaga kefarmasian.

Lembar Balik Pelayanan Informasi Obat

Daftar Isi Lembar Balik PIO

Sebagai penutup, kembali pada pertanyaan seberapa pentingkah konsep PIO bagi tenaga kefarmasian? Menurut hemat saya, aplikasi dan implementasi PIO merupakan hal yang wajib kita pikirkan, konsepkan dan jalankan secara terpadu, baik dalam konsep masyarakat (komunitas)maupun perorangan. Karena menjalankan PIO dengan baik dan terkonsep akan menjadi bagian yang menunjukkan bagaimana jati diri kita sebagai profesional farmasi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *