Pentingkah Pendidikan Profesi Ners Saat Ini?

Tulisan ini hadir dari sebuah pengalaman hidup dalam hal pendidikan, sedikit informasi bahwa saya adalah lulusan Diploma Tiga  Keperawatan (D-III) pada empat tahun yang lalu dari salah satu Poltekkes di Republik tercinta ini.  Seiring berjalannya waktu tibalah saat dimana saya merasa semangat dan termotivasi tinggi untuk melanjutkan studi ke jenjang Sarjana pada dua tahun lalu.
Ketika saya berhasil menuntaskan studi sarjana dimana sesuai dengan rencana dan harapan saya, disitu ada hal lain yang membuat hati saya terguris akibat dari pertanyaan yang tidak berdasar dari orang-orang di sekitar saya.

Ketika itu ada beberapa orang (teman, dosen, kerabat, keluarga) saya menanyakan ‘kamu sudah wisuda?’‘Lanjut profesi (ners) gak?’‘Eman-eman lohkalau gak ngambil  gak bisa kerja’, adapun yang memberikan pernyataan bahwa ‘rugi kalau gak ambil ners’‘mau jadi apa kalau gak ambil ners?’.


Artikel terkait Upaya Cegah Covid-19 :


Sederet pertanyaan dan pernyataan inilah yang membuat hati saya terguris, dan bertanya dalam hati begitukah penilaian dan pemikiran kalian?

Apakah saya harus meninggalkan pemikiran saya dan mengikuti pemikiran kalian yang dimana semua itu hanya berdasar pada pertimbangan kalian, di luar pengetahuan kalian tentang keadaan atau situasi profesi keperawatan saat ini. Bahkan yang membuat saya heran adalah butakah kalian terhadap situasi perawat saat ini?

Karena, kita tidak pernah tau apa pertimbangan dia dalam mengambil keputusan, dan apa pengetahuan dia tentang hal tersebut.

Terkait hal itu saya akan sedikit membahas mengapa saya tidak melanjutkan pendidikan profesi (ners), dan yang menjadi catatan penting bagi saya adalah biaya pendidikan yang tidak sedikit, serta resiko penyakit yang didapatkan saat pendidikan.

Terkait risiko penyakit ini saya mempunyai sedikit cerita tentang teman saya bahwa dia merupakan lulusan pendidikan kesehatan juga, saat di masa kebahagiaan dan keberhasilannya dalam studi tersebut dia juga harus melawan sakit yang dia derita akibat dari risiko terpapar penyakit dilahan praktik (sakit yang dia alami adalah TB milier), berlatar dari pengalaman teman saya tersebut sehingga saya lebih menjaga jarak dari hal-hal yang berbau klinis.

Selain itu saat ini tenaga perawat merupakan tenaga kesehatan terbanyak, dan terbukti banyak perawat yang menganggur, banyak perawat yang banting setir ke bidang yang lain, melihat hal tersebut maka saya semakin yakin bahwa masa depan profesi perawat cepat atau lambat berangsur-angsur akan sirna.
Berbicara mengenai peningkatan tenaga perawat, saat ini lulusan perawat adalah sekitar 45.000 per tahun, kebutuhan nasional per tahun 11.000, bayangkan berapa jumlah perawat yang tak tau arah tersebut, sekitar 34.000 yang tak ada arah dan harapan.

Yang menjadi pertanyaan adalah dimana kehadiran organisasi profesi (PPNI), dan dimana perhatian pemerintah yang membiarkan pengangguan intelektual begitu marak di Republik ini.
Kembali ke pertanyaan orang-orang yang maha tau tersebut di atas, mereka pasti tidak mengetahui hal ini, apabila mereka mengetahui hal ini pasti mereka takan bertanya  seperti itu, atau kemungkinan mereka tahu, tetapi hanya  ingin menjerumuskan kita kepada hal-hal yang bersifat mubazir.

Untuk dosen-dosen keperawatan mungkin mereka hanya memikirkan kelangsungan hidup mereka sebagai pengajar, maka soal dampak eskalasi perawat tidak menjadi masalah, yang penting dana segar jalan terus.

Memang sungguh miris keadaan profesi  ini, bingung harus berkata apa, baiknya produksi profesi ini segera diberhentikan, karena hanya akan mendatangkan pengangguran, daya serap kurang, lulusan meningkat setiap tahun, ditambah standarisasi yang setiap tahun kian mencekik membuat perawat tak berdaya.

Di daerah saya sendiri ada situasi unik dari profesi ini, profesi perawat ini bahkan diperlakukan seperti bukan tenaga ahli, sistem sukarela pada fasilitas pelayanan kesehatan di papua barat masih sangat menyedihkan.

Perawat tidak digaji, bahkan harus membuat surat pernyataan tidak menuntut kompensasi apapun ketika bekerja, saya sebagai korban merasa sedih, bahkan sampai detik ini, sampai tulisan ini muncul masih ada situasi ini, masih terjadi bahkan kalau diandaikan sebuah penyakit mungkin sudah mencapai level kronis, dan tumbuh subur layaknya tanaman yang kaya akan oksigen.

Buruknya ada sebagian perawat senior sangat apatis dengan keadaan ini, padahal bila dilihat secara baik ini merupakan pelecehan terhadap profesi, profesi yang katanya garda terdepan dan 24 jam bersama pasien, tetapi itu hanya sekedar kata-kata, untuk aksinya bisa dikatakan omong kosong, senior hanya mementingkan perutnya sendiri.

Saran saya kepada seluruh perawat yang masih menjadi budak Instansi (sukarela) segera berbenah diri, dan membuka pandangan yang luas, serta berani keluar dari zona nyaman.

Masih ada kesempatan, bahkan bukan di ruang lingkup profesi perawat, semua bergantung pada pemikiran serta pengambilan keputusan kita masing-masing, semoga derita profesi ini cepat selesai.

Paket Kebutuhan untuk New Normal, Silakan Klik disini

Harapan terbesar saya adalah pada pemerintahan yang baru ini, dengan menteri yang baru dapat lebih memberikan angin segar, terutama mengatasi seluruh rangkaian permasalahan profesi keperawatan baik daerah maupun pusat, sehingga pelayanan kesehatan akan optimal dari perawat yang sejahtera.


Rendi Ariyanto Sinanto, S.Kep

Penulis adalah seorang perawat dari Papua Barat, sedang menyelesaikan studi pada Magister Kesehatan Masyarakat Univ. Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Artikel ini pernah tayang di Kompasiana dengan judul Pentingkah Pendidikan Profesi Ners Saat Ini? (Silahkan klik untuk sumber asli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *