Mereka itu Inspirasiku …

Syafana Najmi. Putri perempuan pertamaku yang begitu mengagumkan. Syafa terlahir pada 12 Mei 2011 dari rahim wanita hebat yang kupinang satu tahun lebih tujuh hari sebelumnya. Anak yang kugadang-gadang menjadi bintang ini adalah akhir dari setiap lelah dan keluh kesahku. Makanya kunamakan dia Syafana Najmi, orang-orang memanggilnya Syafa, saat aku menulis cerita ini umurnya hampir menginjak 8 tahun. Duduk di bangku sekolah dasar di sebuah sekolah dasar negeri di kecamatan sebelah. Terlahirnya Syafana ini menandai dengan berdirinya rintisan Apotek Syafana. Apotek yang mengajarkanku nilai-nilai hidup, yang memberiku banyak pijakan dan memberi banyak kenyamanan dalam bingkai sebuah keluarga besar.

Syafana Najmi

Masih kuingat (dan terus kuingat) pertama kali aku menjejakkan kaki di kampung Dukuh 04, Sidomoyo, Godean. Membawa putriku dalam troli, membiarkannya tidur lelap,  sementara aku dan istriku menyiapkan segala uborampe untuk sebuah apotek yang suatu saat nanti akan menjadi perlabuhan profesi terakhir bagi kami sebagai seorang apoteker. Dan beranjak dari Syafana pula akhirnya kami menetap di kampung ini. Hidup dan berdampingan dengan mereka yang begitu menyayangi kami. Absen ya : Mbah Ngatijo (alm) beserta Mbah Yati sekeluarga, Mamak yang mengasuh Syafa sampai usia sekolah, Mbah Ituk, mbah Inten, Mbah Rajiman, Mbah Isum, Mas Inang yang berkawan dari mulai era Starlet sampai sekarang menjadi Dukuh, Sandra, mbak Yuni, mbak Lena yang dulu masih abu-abu sampai sekarang sudah menjadi ibu-ibu. Pak Mul, Pak Jono, Bu Kris, Bude Lis, mbak Tari, Bu Sarti, Banyak pokoknya…

Hasna Nareswari

Akhirnya pada 13 Juli 2014 aku tak lagi boleh menyebut lagi dia, dan harus kusebut mereka. Pada hari itu terlahir anak keduaku yang kuberi nama Hasna Nareswari. Berkali dia bertanya apa arti namanya, kujawab singkat saja : bidadari yang cantik, senangnya sudah seperti habis diberikan 10 sepeda tanpa harus menyebutkan nama-nama ikan.  Dan yang khas sampai sekarang, anak ini masih belum bisa membedakan hari ini, tadi, kemarin, besok. Makanya dia masih sering nanya ”Sekarang udah besok belum ma?” Nama anak yang begitu bangga dengan rambut kritingnya yang katanya kayak emie ini lah yang akhirnya kupilih menjadi nama galeriku. Tempat dimana aku menuai dan merangkai karya demi karya. Ya, Galeri Hasna Nareswari.

Mungkin orang agak bingung, kok ngasih galerinya panjang amat? Kayaknya kok kepanjangan, susah disingkat atau apalah… Mungkin saja. Tapi bagiku nama itu filosofi yang bukan hanya sekedar apalah arti sebuah nama. nama itu sangat berarti dan susah untuk diintervensi dengan akal sehat. Sama seperti ketika aku menggunakan empat gerbang nalar untuk sebuah nama bagi anakku yang kuimpikan, sekaligus kuperjuangkan menjadi anak yang istimewa.

Bukankah sama ketika orang tua WR Supratman memberi nama Wage Rudolf Supratman? Apakah ada beda ketika dulu pemerintah memberi nama sebuah rumah sakit terbesar di Indonesia dengan nama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo? Tidak mudah juga ejaan dan frasenya. Itulah sebabnya, aku sangat enjoy aja, dengan sangat mudah menemukan nama galeri kebanggaanku dengan nama Galeri Hasna Nareswari. Kelak aku juga memimpikan akan mampu mempunyai sebuah yayasan atau organisasi amal juga dengan nama yang sama : Hasna Nareswari.

Di awal tahun 1999 pertama kali aku menjejakkan kaki di Jogja, mengenal pendidikan di Universitas Sanata Dharma, aku diperkenalkan dengan pelatihan atau sebuah pendampingan menjadi mahasiswa efektif atau yang disingkat PMME. Satu yang masih kuingat dari acara yang mengdopsi tema dari buku 7 Habit karya Stefen R Covey itu adalah pertanyaan mengenai apa yang ingin disebut orang ketika kita mati. Dan katanya itu adalah bagian dari sebuah visi hidup.

Ini jualah yang ingin kudapat. Aku harus bertumbuh, ber-regenerasi, dan kelak ketika tak ada lagi yang bisa kubawa kecuali hanya ilmu, amal dan anak yang shalihah, ”aku sangat berharap hasil” dari apa yang kulakukan dengan penuh jibaku ini, yang kulakukan dengan pahatan kasih sayang ini. Tak perlu dijadikan patung monumen di ujung kampung. Hanya sebuah catatan ingatan dari generasi penerusku. Bahwa dari akulah ada nama Syafana Najmi, dari akulah mereka tahu bagaimana cara kura-kura berjalan membawa rumahnya kemana-mana. Dan melalui rahim istriku pula-lah Allah mentakdirkan terlahir dua generasi hebat.

Ketika berulang aku menyebut aku dengan egoku, maka kepada-Nya pertama kutambatkan syukur yang tiada terputus, dan kepada mereka kulilitkan kasih di urat nadi, tak hanya sepanjang galah, melainkan kasih dan terima kasih atas kehadiran kalian, istri dan buah hatiku, Syafana Najmi dan Hasna Nareswari. 

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *