Lebih Dekat dengan Jamu, OHT, dan Fitofarmaka

Obat Tradisional atau oleh masyarakat umum lebih dikenal sebagai jamu merupakan salah satu warisan budaya bangsa di bidang kesehatan. Pengobatan dengan menggunakan obat – obat tradisional juga merupakan salah satu alternatif di bidang pengobatan, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa obat tradisional mempunyai kedudukan khusus bagi Masyarakat Indonesia.

Menurut peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) Indonesia, obat alam di Indonesia atau yang lebih dikenal dengan obat tradisional dikelompokkan menjadi tiga golongan, yakni : jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.

Jamu

Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran bahan dari bahan – bahan tersebut, yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

Jamu disajikan secara tradisional dalam bentuk serbuk seduhan, pil, atau cairan. Satu jenis jamu dapat terdiri dari 5 – 10 tanaman obat. Jamu tidak melewati pembuktian ilmiah tetapi hanya berdasarkan bukti empiris, walaupun begitu jamu yang pada umumnya diproduksi harus memenuhi persyaratan yang sama, yaitu aman, berkhasiat, bermanfaat, dan bermutu baik.

Seiring dengan banyaknya jamu yang beredar di pasaran, sebagai konsumen kita harus selektif dalam memilih jamu yang akan dikonsumsi agar sesuai dengan efek yang kita harapkan. Untuk itu, sebaiknya selalu cek jamu yang sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Badan POM, yang paling mudah diketahui adalah label dalam kemasan.

logo jamu 21

Bentuk lingkaran pada logo jamu melambangkan sebuah proses dan menyatakan bahwa produk jamu tersebut termasuk dalam kategori aman. Warna hijau merupakan perwujudan kekayaan sumber daya alam Indonesia, kemudian jari – jari daun melambangkan serangkaian proses yang sederhana yang merupakan visualisasi proses pembuatan jamu.

Obat Herbal Terstandar (OHT)

Obat herbal terstandar merupakan obat tradisional yang disajikan dari hasil ekstraksi atau penyarian bahan alam, baik tanaman obat, binatang, maupun mineral. Berbeda dengan jamu, OHT telah diteliti khasiat dan keamanannya melalui beberapa uji pra klinis. Uji tersebut adalah uji penerapan standar kandungan bahan, proses pembuatan ekstrak, uji higenitas, serta uji toksisitas. Dalam proses pembuatan OHT, dibutuhkan peralatan yang tidak sesederhana dalam pembuatan jamu serta tenaga kerja-nya harus benar – benar menguasai Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik (CPOTB).

Salah satu contoh OHT yang banyak beredar di pasaran adalah Sirup Herbal Antangin Jrg yang diproduksi oleh PT Deltomed Lab yang komposisinya terdiri dari beberapa ekstrak tanaman seperti Zingiberis rhizoma (jahe), Panax gingseng, Blumeae folium dan ekstrak tanaman yang lain.

LOGO OHT

Logo OHT berupa jari – jari daun yang trediri dari 3 pasang terletak di dalam lingkaran dan ditempatkan di bagian atas kiri, aturan peletakan logo ini juga berlaku untuk penandaan jamu dan fitofarmaka. Logo dicetak warna hijau dengan dasar putih atau warna lain yang menyolok / kontras dengan warna logo, kemudian harus dicantumkan tulisan “Obat Herbal Terstandar”. Tulisan harus jelas dan mudah dibaca, serta dicetak dengan warna hitam.

Fitofarmaka

Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan diuji praklinis dengan hewan percobaan dan telah melalui uji klinis pada manusia serta bahan baku dan produknya telah terstandardisasi.

Fitofarmaka merupakan obat yang biasa disejajarkan dengan obat modern selain itu fitofarmaka juga mulai direkomendasikan oleh dokter karena perkiraan manfaatnya terhadap penyakit tertentu cukup besar, memiliki rasio resiko dan kegunaan yang menguntungkan pasien, hal ini dapat dibuktikan karena fitofarmaka dalam produksinya telah beberapa uji, yakni :

  • Uji toksisitas : untuk mengetahui ada tidaknya efek yang beracun dalam zat berkhasiat
  • Uji Farmakologik eksperimental : pengujian pada hewan percobaan untuk memastikan khasiat fitofarmaka
  • Uji klinik fitofarmaka : pengujian pada manusia untuk mengetahui atau memastikan adanya efek farmakologik, tolerabilitas, keamanan, dan manfaat klinik untuk pengobatan atau pencegahan gejala penyakit.

Salah satu contoh fitofarmaka yang populer adalah Stimuno yang diproduksi oleh PT Ferron Par Pharmaceuticals. Stimuno terdaftar sebagai fitofarmaka kerena dibuat dari ekstrak Meniran Phyllanthus niruri sebagai imunomodulator (memperbaiki sistem imun) yang telah terstandardisasi dan telah melalui uji pre klinik dan uji klinik.

FITO

Hampir sama dengan jamu dan OHT, Bentuk lingkaran melambangkan sebuah proses dan tanda aman. Warna hijau dan kuning merupakan perwujudan kekayaan sumber daya alam. Stilisasi jari – jari daun yang membentuk bintang melambangkan serangkaian proses yang cukup kompleks dalam pembuatan fitofarmaka.

Perbedaan Antara Jamu, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka

Perbedaan Jamu Obat Herbal Terstandar Fitofarmaka
Bahan baku terstandarisasi Tidak Ya Ya
Klaim Khasiat dan uji klinik Bukti empirik

(berdasarkan pengalaman)

Bukti empirik

dan bukti pra klinik

Bukti pra klinik, bukti klinik (melewati tahapan uji klinis)
Kode Registrasi BPOM TR TR FF
CPOTB ya ya Ya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *