Tata Graha dan Akreditasi dari Berbagai Persepsi

 

Selain kesibukan dalam penataan dokumen dan bukti telusur, menyiapkan rapat, membuat notulen, sampai menyiapkan video-video menjadi pernak-pernik tersendiri dalam kaitannya puskesmas menyambut survey akreditasi. Tak kalah menariknya adalah soal tata graha.

Dimana posisi tata graha dalam proses akreditasi?

Posisi tata graha dalam proses akreditasi bisa dibilang nyaris tidak ada. Sejauh saya berkecimpung dalam pengadaan tata graha dari tahun 2015, hanya sedikit saja puskesmas yang telaten atau concern dalam hal penyiapan tata graha. Boleh jadi puskesmas akan lebih banyak bekerja dengan dokumen dan dokumen, telusur dan telusur, dari awal persiapan hingga menjelang akhir persiapan menjelang disurvey. Meski demikian banyak pula yang memberi concern khusus dengan menyiapkan dan memesan produk pendukung tata graha di awal. Hasil tampilan tentu saja berbeda antara puskesmas yang mengiapkan tata graha di awal dengan puskesmas yang menyiapkan tata graha ala kadarnya. Meskipun keduanya memiliki kesamaan yakni sama-sama mengeluarkan uang, namun hasil yang didapatkan secara visual tidak mungkin sama.

Penataan tata graha yang artistik akan menjadi nilai tambah tersendiri. Banyak puskesmas yang tidak terlalu mengejar status akreditasi yang tinggi melainkan lebih mengejar bagaimana sistem itu bisa berjalan dan pasien bisa lebih mendapatkan manfaat yang lebih banyak.

Pentingnya tata graha dari berbagai sudut pandang.

Banyak sudut pandang yang bisa dipakai ketika kita mengulas tata graha melalui beberapa sudut pandang. Dalam aspek ini anda sendiri yang menentukan sudut pandang mana yang akan anda ambil sebagai prioritas. Jika kita posisikan dokumen kertas (SK, SOP dan bukti telusur) sebagai sebuah guideline dalam menjaga dan memonitor  konsistensi berjalannya sebuah proses, tentu muara akhirnya adalah keselamatan pasien. Disini kita juga seyogyanya menempatkan tata graha dari sudut pandang keselamatan pasien. Jika tata graha adalah keselamatan pasien maka tata graha adalah juga merupakan guideline sekaligus safety sign. 

Saya ilustrasikan, disebuah puskesmas yang tidak terlalu luas, ambulan sering kesulitan  keluar melintasi UGD. Ternyata ini menjadi masalah bagi puskesmas. Dan ketika ditelusuri ternyata banyak kendaraan pasien yang terparkir di depan UGD dan mengganggu akses jalan ambulan. Dari permasalahan ini puskesmas menjadikan suatu produk tata graha sebagai sebuah tindak lanjut. Misalnya dengan  memasang papan penunjuk parkir dan larangan parkir di depan UGD.

Setelah survey akreditasi mau apa??

Dari sudut pandang yang berbeda, saya akan mencoba mempersepsikan tata graha dari sudut pandang ilmu desain. Menyiapkan tata graha dapat disamakan dengan menata sebuah harmoni dalam rumah anda, dalam ruang pribadi anda. Tempelan-tempelan yang dipersyaratkan dalam elemen penilaian tentu tidak boleh menjadikan ruang pelayanan penuh sesak dengan sampah visual dan tempelan-tempelan semi permanen yang justru membingungkan orang. Dengan demikian memang harus diakui bahwa dalam penataan tata graha anda membutuhkan waktu dan materi untuk berpikir, bukan dengan cara seperti Bandung Bondowoso yang menyelesaikan Candi Sewu hanya dalam waktu semalam. Jika kita menyiapkan tata graha dengan hanya berprinsip asal ada saat surveyor datang, lantas setelah proses akreditasi selesai mau apa??

Melengkapi artikel yang pernah saya tulis sebelumnya tentang Tata Graha sebagai Keselamatan Kerja, berikut kami berikan contoh-contoh penataan tata graha di Puskesmas yang pernah kami kerjakan. Kami berusaha memadukan antara keindahan dengan tetap mengacu pada keterpenuhan standar sesuai instrumen akreditasi.

Dalam penataan tata graha secara visual banyak hal yang harus kita interpretasikan. Yang semuanya merupakan keterpaduan antara aspek seni, pemenuhan elemen penilaian dan juga sebagai informasi (baca : safety sign).

Video Tata Graha Persiapan Akreditasi Puskesmas Girimulyo II

Misalnya pada penempatan alur pelayanan, penting untuk memilih titik dimana penempatan alur pelayanan atau alur pendaftaran harus mempertimbangkan hal-hal berikut :

  • dapat dengan mudah terbaca,
  • dengan mudah dapat membantu pasien mendapatkan informasi yang jelas dan mudah dimengerti.
  • tidak menghalangi akses jalan pasien (tidak berada dikoridor yang sempit yang akhirnya membuat pasien berhenti dan menghalangi jalan pasien lain)

Contoh-contoh tersebut akan terus kami update dan dapat Anda download sebagai pengaya materi dalam mendesain puskesmas sebagai rumah pelayanan anda yang menyamankan dan membanggakan. Bukan hanya bagi Anda melainkan bagi masyarakat sekitar dan segenap stake holder puskesmas.

Kami akan terus mengupdate informasi-informasi terkait akreditasi puskesmas hingga Anda melewati proses survey hingga exit conference seperti pada tayangan video kami berikut :

Mars Puskesmas Girimulyo II pada Exit Conference Survey Akreditasi FKTP 2017

One comment

  • Betul apa yang jadi ulasan diatas. Tata graha memberikan “kesan awal” bagi surveyor maupun masyarakat sebagai pengguna pelayanan, yang mana kita ketahui bersama bahwa kesan awal akan mempengaruhi sikap selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *