Ide Menjadikan Tata Graha sebagai Keselamatan Kerja

Puskesmas jaman dulu dengan era sekarang

Coba Anda searching di akun media sosial dengan kata “puskesmas”. Saya pastikan anda tidak hanya akan mendapatkan ratusan temuan, bahkan ribuan puskesmas di seluruh Indonesia yang tengah dan sudah bersolek beradu keindahan visual akan anda temukan di media sosial.

Saya termasuk orang yang turut bangga dengan perkembangan puskesmas sebagai primary care, sebagai jejaring awal dalam deteksi penyakit, belakangan ini berkembang dengan sangat pesat. Jika kita mau obyektif, semestinya tidak lagi ada stigma miring yang memanjangkan singkatan puskesmas = pusing, kesel, masuk angin. Dulu mungkin iya, tapi di era sekarang, support terhadap puskesmas yang saya lihat khususnya di Yogyakarta sangatlah luar biasa. Penampakan yang paling nyata adalah dari pembangunan fisik, pemenuhan “alat-alat” untuk membuat masyarakat bisa hidup lebih sehat. Setidaknya dalam catatan dan pengamatan saya, banner, stiker, spanduk, dan berbagai ajakan untuk hidup sehat itu lebih terasa dan lebih penuh warna dibandingkan dengan 5 atau 10 tahun silam. Itu baru dari sisi alat peraga kampanyenya, jika Anda menelisik ke dalam lagi, peralatan medis pun sudah mulai terstandarisasi, penerapan SOP/SOP khususnya di puskesmas yang akreditasi, dan masih banyak lagi.

“Di era sekarang, berbagai media kampanye untuk hidup sehat lebih terasa, media massa, media sosial, berpadu dengan seni, sambung- menyambung mengajak masyarakat untuk hidup sehat secara serentak”

Kembali pada puskesmas, saya merasakan bahwa dalam pembangunannya masih banyak yang masih banyak yang bisa dimaksimalkan. Sejenak saya tidak berbicara tentang MDGs, saya berhenti bicara gizi buruk, ASI Eksklusif, saya juga melepaskan diri dari tema STOP BABS sebagai salah satu pilar dalam PHBS. Saya akan bicara estetika. Estetika… yang saya maksudkan adalah dari sudut pandang desain pemanfaatan sebesar-besarnya ilmu grafis untuk mempengaruhi perilaku masyarakat. Bahasanya mungkin sedikit susah dimengerti, yang patut kita catat adalah : uang ada, SDM ada, kenapa belum mampu membuat tampilan seperti bank-bank swasta, sebut saja BCA, BNI. Seharusnya puskesmas lebih mampu jika hanya ingin membuat front office yang setara dengan swasta. Orientasi yang sepatutnya kita renungkan kembali adalah bahwa kita akan menjadikan media untuk masyarakat, bukan hanya sekedar menyelesaikan SPJ dan penyerapan anggaran.

Terlepas dari riak-riak tadi saya ingin membagi beberapa hal yang mungkin bisa menjadi ide, atau sekedar inspirasi untuk mereka-mereka yang peduli dengan kreatifitas dan mungkin lebih meninggikan aspek seni dibanding esensi. Bahwa mengubah tampilan sebuah puskesmas akan menciptakan brand tersendiri. Ingat bahwa dalam banyak hal, brand dan pencitraan bisa lebih menguntungkan dibandingkan dengan mutu yang tanpa brand. Banyak lho puskesmas yang secara brand sangat bagus dan estetis tapi secara manajemen acak adul. Jika brand image puskesmas baik siapa yang akan diuntungkan??? ya kepala puskesmasnya… eh maksud saya masyarakatnya yang diuntungkan. Artinya kita bisa mengerucutkan keyakinan bahwa jika kita melakukan yang terbaik, jika kita bekerja dengan baik tidak ada yang tidak melihat kita. Itu pasti. Dan sebaik-baik balasan adalah jika pimpinan yang membalasnya. Maksud saya adalah Allah SWT. Bukan pimpinan dinas kesehatan atau bupati. Hehehe

Kita mungkin boleh memulai berpikir untuk meninggalkan tampilan-tampilan yang berpotensi mengganggu efisiensi dalam “mengkampanyekan kesehatan” dan memulai melakukan pengadaan barang yang bisa relevan dengan jaman bahkan kalau bisa mampu bertahan hingga beberapa tahun mendatang namun juga sesuai kebutuhan.

Melihat tata graha sebagai safety sign.

“Paradigma yang menurut hemat saya merupakan sesuatu yang tidak tepat adalah pemenuhan tatagraha sebagai pelengkap pemenuhan implementasi atau bukti telusur sebuah kegiatan yang masuk elemen penilaian”

Jika target yang kita inginkan adalah berjalannya sistem dan keselamatan kerja, maka tata graha haruslah kita lihat dan optimalkan sebagai sebuah safety sign atau rambu keselamatan. Ketika kita mempersepsikan dan memperlakukan entah itu misalnya rambu evakuasi, tanda APAR atau mungkin kotak saran misalnya, sebagai sebuah perangkat keselamatan maka tentu kita akan membuat perangkat tersebut tepat guna, tepat pemasangan, tersedia petunjuk yang terbaca, bisa dimengerti dan dipergunakan dengan baik sewaktu-waktu dibutuhkan. Akan tetapi sebaliknya jika kita berorientasi pada pemenuhan standar maka jadi yang terjadi adalah “yang penting ada” perkara berguna atau tidak itu urusan nanti.

Sama halnya dengan keberadaan alur (SOP pelayanan), panduan keselamatan 5 R (ringkas, rapi, resik), bisa saja kiita tampilkan ala kadarnya. Namun sekali lagi jika orientasi kita adalah ingin menghasilkan sebuah proses yang benar hendaknya perangkat-perangkat pendukung kita bingkai dalam sebuah tampilan visual yang menarik minat baca obyek yang kita jadikan sasaran.

Kiat-kiat mempersiapkan tata graha yang efektif dan bermanfaat bagi sasaran

KBeberapa tips berikut semoga bermanfaat. Bahwa ketika kita menampilkan sesuatu entah itu sifatnya informasi, kampanye, himbauan dan sebagainya hendaknya kita memperhatikan beberapa aspek berikut :

  1. Keterbacaan. Ini adalah aspek teknis yang banyak dipengaruhi oleh baik atau tidaknya sebuah produk. Aspek keterbacaan ini meliputi beberapa hal diantaranya adalah ukuran font, penggunaan tata bahasa yang mudah dipahami, termasuk penggunaan ukuran media. Hendaknya kita menggunakan media informasi dengan proporsi yang seimbang sehingga dapat terbaca dengan baik dan messagenya sampai pada receiver.
  2. Pentingnya sebuah perpaduan warna. Bagi saya pribadi saya merasa tidak nyaman ketika warna hijau apalagi hijau tua dipadukan dengan warna merah atau hitam. Demikian halnya warna biru dengan warna hitam. Aspek perpaduan warna ini masih menjadi domain desainer yang akan menentukan  berhasil atau tidaknya sebuah produk dan juga tingginya nilai seni yang akan dihasilkan
  3. Perhatikan masalah penempatan, dalam memasang sebuah peraga hendaknya mempertimbangkan aspek keterbacaan terhadap penempatan barang. Hendaknya tidak memasang pada posisi yang terlalu tinggi, yang membuat pasien mendongak bahkan dengan mendongak pun masih belum bisa terbaca.
  4. Penggunaan bahasa yang baik dan benar. Yang saya lihat masih sering salah adalah penggunaan imbuhan di. Seperti misalnya di puskesmas (kata di dipisah), pasien wajib membawa kartu jaminan yang dimiliki, (bukan di miliki), kepala puskesmas diwakili oleh kasubag TU, (bukan di wakili) dan seterusnya masih banyak contoh lain yang bisa anda amati sendiri di sekeliling kita. Baca juga Sulitnya menulis imbuhan di
  5. Mintalah approval, di era sekarang ini komunikasi dan berkirim media sangatlah mudah. Jika anda memesan sebuah produk, anda berhak meminta contoh draft yang akan dicetak sehingga Anda mempunyai kesempatan untuk memperbaiki bilamana ada content yang kurang sreg atau tidak sesuai pesanan. Dengan cara ini dapat meminimalisir anda secara ujug-ujug menerima barang jadi yang salah. Pengiriman draft desain bisa teramat mudah dengan adanya banyak fasilitas sosial seperti whatsapp, BBM bahkan email.
  6. Pada jenis-jenis tertentu hindari penggunaan media banner MMT khususnya yang menggunakan bahan dan resolusi rendah. Banner dengan kualitas rendah biasanya cenderung akan meninggalkan semacam bintik-bintik di sekitar obyek yang mengganggu pemandangan, bahkan menjadikan font menjadi sulit terbaca. Keterbacaan font pada media banner paling kecil idealnya tidak kurang dari 24. Jika kurang dari itu biasanya materi akan susah terbaca.
  7. Pertimbangkan untuk menggunakan pigura. Menggunakan pigura itu ibarat pilihan antara menggunakan premium vs pertamax. Anda akan sedikit boros di awal, tetapi ketika anda ingin mengupdate sebuah materi anda bisa dengan mudah menggantinya tanpa merusak barangnya. Selain itu menggunakan pigura membuat Anda akan lebih fleksibel dalam memilih material cetak. Jika Anda memilih indoor tentu resolusinya akan bisa maksimal. Tanpa efek totol-totol yang mengganggu pemandangan. Apalagi jika hanya banner yang dipaku di tembok, saya kira akan sangat kurang elegan untuk ditampilkan.
  8. Maksimalkan space yang ada agar ruangan tidak terlalu penuh oleh tempelan. Kaca, pintu, jendela bisa anda pertimbangkan untuk digunakan sebagai media peraga. Apalagi di era akreditasi seperti sekarang dimana anda membutuhkan amat banyak tempelan-tempelan yang memenuhi seisi dinding, akan lebih bijak jika Anda tidak hanya memenuhi elemen penilaian namun juga mempertimbangkan aspek estetika.
  9. Perhatikan proporsi ukuran, cobalah untuk memikirkan proporsi ruangan yang ada dengan barang yang terpasang. Barang yang nampak terlalu kecil justru tidak akan memberi informasi kepada pasien melainkan hanya menjadi pengganggu secara visual.
  10. Hindari penggunaan benda dengan sudut yang tajam. Anda dapat meminta dan mengingatkan secara khusus kepada pembuat agar setiap sudut yang bersifat tajam dan membahayakan pasien harus dikondisikan sedemikian rupa agar tidak berpotensi memberikan efek cedera kepada pasien

Demikian beberapa tips yang kiranya dapat memberi ide atau manfaat lainnya. Puskesmas dengan tampilan baik tentu bukan karena kebetulan, bukan pula karena besar kecilnya dana yang anda mampu bayar. Tentu semua karena Anda, eksekutornya adalah Anda, kreatornya adalah Anda. Tentu keindahan dan kerapian itu adalah akibat kinerja terbaik Anda dan masyarakatlah yang akan mendapat kebaikannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *