Benarkah kehadiran Apoteker Berpengaruh terhadap Omset Apotek?

Kehadiran apoteker di berbagai wilayah di Indonesia tidaklah tergolong masuk dalam bilangan tinggi. Di Padang misalnya, kehadiran apoteker hanya 58.67% (sumber), di Surabaya 60% (sumber) di beberapa kota lain juga menunjukkan angka yang lebih kurang sama. Prosentase buka dan memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa kehadiran seorang apoteker bisa dikatakan cukup tinggi.

Sebagaimana diketahui bahwa pengobatan sendiri masih menjadi langkah pilihan pertama bagi masyarakat Indonesia dalam merespon permasalahan kesehatan yang menerpanya. Pertama ya ke apotek dulu, atau ke toko obat, atau ke warung, begitu mungkin urut-urutannya. Sebelum akhirnya ke klinik atau fasilitas pelayanan kesehatan lebih lanjut. Di Yogyakarta data Riset Kesehatan Dasar Kemenkes (Riskesdas) menunjukkan bahwa Data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) menunjukkan bahwa 57,4% rumah tangga di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan pengobatan sendiri dalam kurun waktu satu tahun terakhir, sementara secara nasional persentasenya sebesar 55,8%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa swamedikasi merupakan satu bagian penting dalam sistem kesehatan. Dinamisasi regulasi yang produktif terhadap upaya swamedikasi tentu membutuhkan sosok profesional di apotek.

Apakah hanya apoteker penentu baiknya pendapatan apotek secara ekonomi? 

Berperan dalam dua sisi, apotek selain sebagai sarana pelayanan kesehatan juga berperan sebagai sebuah unit usaha yang tidak dapat dilepaskan dari orientasi bisnis. Kehadiran apoteker membutuhkan cost yang tidak kecil, yang besarannya diatur melalui organisasi profesi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Investor (pemodal) tentu juga tidak lepas dari perhitungan setoran dan perhitungan untung-rugi. Belum lagi operasional lain-lain yang jumlahnya tidak kecil. Itulah sebabnya ketika berbicara mengenai penentu pendapatan apotek tentu tidak dapat dilepaskan dari sisi untung dan bussines oriented meskipun selama ini para apoteker lebih keras dalam menggaungkan sisi patiend oriented-nya ketimbang sisi bisnisnya.

Aspek bisnis akan menentukan eksistensi apotek di masa datang. Tentu apotek yang berdiri dan “ada” di suatu tempat pada tahun 2021 selayaknya tetap ada dan mampu melayani masyarakat nanti bahkan sampai tahun 2031. Meskipun pada kenyataannya banyak apotek yang hanya seumur jagung. Tergilas oleh kerasnya persaingan antar apotek, mulai dari apotek perorangan, apotek dengan pemodal kelas UMKM, franchise hingga apotek dengan skala nasinal sekelas BUMN.

Kotak obat apotek/klinik

Kotak Obat Apotek/klinik

Dengan demikian apotek adalah sebuah tatanan sistem dan tata kelola yang didalamnya juga melakukan sebuah proses branding, membentuk citra dalam pelayanan yang baik, membutuhkan kehadiran “orang-orang profesional” sebagaimana amanat regulasi bahwa upaya kesehatan adalah memberikan hasil yang pasti, bukan menerka-nerka suatu keadaan yang menjadi keluhan pasien. Branding yang baik akan banyak dipengaruhi oleh banyak aspek yakni:

Pertama, permodalan yang cukup, aspek finansial ini akan menjadi faktor yang cukup strategis dalam mendongkrak pendapatan apotek. Setidaknya dengan permodalan yang baik apotek akan memiliki banyak opsi dalam menyediakan item obat yang harus dinamis mengikuti perkembangan pasar. Memang dengan kehadiran tenaga profesional, permasalahan kebutuhan obat pasien dapat diatasi, dibelokkan atau disubstitusi, namun demikian tentu tidak mungkin semua “pencari” parasetamol semua diarahkan ke generik? Tentu tidak. Mereka tetap membutuhkan sanmol, tempra, beberapa orang masih fanatik dengan Pamol, atau merk-merk dagang lain. Bahkan banyak juga yang lupa merk-merk dagang lain saking fanatiknya sampai ingat mama ingat Tempra

Kedua, pelayanan yang baik dan profesional. Apotek memang berada dalam kuadran jualan barang (dalam hal ini obat dan alkes) dan jualan pelayanan (praktek kefarmasian) dengan batas yang sangat tipis. Pada kenyataannya, banyak apotek yang hanya mengedepankan sisi lengkapnya, bukan sisi pharmacy practice-nya, bahkan di era serba e-commerce ini tidak sedikit apotek yang survive di e-commerce. Di tokopedia misalnya. Puluhan apotek terdaftar sebagai official store, sebuah kasta prestisius untuk seller di tokopedia. Yang menjadi pertanyaan adalah, dalam kondisi seperti ini akan seperti apa letak pelayanan kefarmasiannya?

Almari Psikotropika untuk Apotek/Klinik

Ketiga, lokasi yang strategis. Lokasi strategis tidak serta merta harus dimaknai sebagai tidak ada pesaing atau kompetitor. Banyak yang memaknai bahwa sebuah lokasi dikatakan baik jika jauh dari apotek lain. Menurut hemat penulis hal itu tidaklah sepenuhnya benar. Belajar dari waralaba sekelas Indomaret, jika kita amati dimana ada Indomaret, tidak jauh dari itu akan ada Alfamart. Menurut hemat penulis hal yang lebih penting adalah analisis kelayakannya memenuhi syarat, itu yang seharusnya dijadikan patokan utama.

Keempat, pengelolaan dan sistem manajerial yang baik. Faktor ini meliputi bagaimana apotek dituntut mampu tampil profesional mulai dari jam operasional yang konsisten, sumber daya yang memadai dan trampil dan secara visual layak untuk disebut sebagai sebuah sarana pelayanan kefarmasian. Kita tentu lihat, masih banyak apotek yang “tampil” apa adanya. Lay out compang camping sehingga banyak pengunjung kesasar bukan nyari obat tapi nyari rokok.

Kelima, pembentukan citra yang baik di masyarakat. Citra ini akan membentuk stigma di masyarakat tentang sebuah apotek. Bahwa yang dimaksud apotek adalah apotek X. Jika membeli obat, atau menyuruh orang membeli obat ya perginya ke apotek X tersebut. Ini termasuk tahapan yang sulit dan membutuhkan waktu dan proses yang panjang. beberapa apotek yang secara branding sudah tercitrakan tidak lengkap akan sulit membangun kesan postitif di masyarakat. Demikian juga apotek yang jam buka-nya tidak konsisten akan lebih lebih sulit lagi.

Pengaruh regulasi terhadap perkembangan apotek

Regulasi sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang apotek. Banyaknya apotek yang harus kehilangan obat akibat kadaluwarsa, kebijakan memperbolehkan tenaga kesehatan lain untuk dispensing segala macam obat, pelanggaran terhadap jalur distribusi obat dan masih banyak lagi. Ketidakmampuan apotek untuk bertumbuh secara dinamis sesuai dengan regulasi yang ada akan menjadi hambatan bagi apotek untuk berkembang, bahkan untuk eksis pun boleh jadi akan sangat sulit.

Penutup, apoteker dapat menjadi komponen pengungkit dari besarnya pendapatan apotek. Namun bukanlah satu-satunya faktor penentu. Dalam menjaga eksistesi apotek, banyak faktor yang harus diperhatikan agar apotek dapat bertahan dan bahkan berjaya. namun demikian, penulis sepakat bahwa tidak ada apotek (boleh buka) tanpa apoteker.

Follow us on social media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *